Feature news

Mengenal Bisnis dan Membaca Pelaporan Akuntansi CPO

Penulis Berpendapat: dua jenis Bisnis yang paling susah untuk melakukan Field Studi ada dua Komoditas dan Finance. Sedangkan penulis sudah menghindari saham non Syariah, jadi hanya sektor komoditaslah, yang penulis hati-hati, dan selama ini proporsi saham komoditas biasanya kurang dari 10% porto, karena resiko-nya yang tak terlihat itu :)

Tapi tak ada salahnya menshare tentang paper analisis saham komoditas.

A.    Bisnis CPO

CPO (Crude Palm Oil), adalah salah satu produk utama dari tanaman kelapa sawit disamping banyak produk sampingan. Fungsi CPO sangat luas, dari yang sederhana, minyak goreng, dan yang paling penting sebagai subtitusi energi (sebagai pengganti bensin). Karena fungsinya yang sangat luas CPO telah menjadi komoditas dunia, dan selalu mengikuti harga pasar. Biasanya fluktuasi harga CPO akan mengiringi fluktuasi harga minyak (brent, light sweet dkk.)

Kelapa Sawit sangat bagus ditanam pada ketinggian sekitar 0-500 meter dpl, membutuhkan tanah yang subur, gembur, tingkat keasaman optimum PH 5-5,5 dan tingkat kemiringan tanah tak lebih dari 15 derajat. Kelapa Sawit akan mulai berbuah pada tahun ke-3 setelah penanaman, dan butuh cukup banyak perawatan, atau bisa dikatakan padat modal. Itulah mengapa, pada awal-awal usaha CPO didirikan selalu menderita banyak kerugian dan cashflow selalu negatif. Artinya butuh finansial yang kuat dan modal yang besar untuk mengelolanya.

Kelapa sawit termasuk tanaman berusia panjang, bahkan sampai 20 Tahun. Produksi tandan buah kelapa sawit akan bertambah terus sampai berusia 8-12 tahun, artinya produksi buah kelapa sawit akan mencapai maksimal ketika berusia 8-12 tahun (dengan produksi 4-6 kali lipat daripada saat berusia 3 tahun) dan menurun produktivitasnya jika sudah menua dan membutuhkan peremajaan sampai usia 20 tahun.

Cost produksi kelapa sawit seperti sebelumnya pada awalnya sangat tinggi, dari biaya pembukaan lahan atau biaya peremajaan, konstruksi lahan (pembuatan jalan dkk.), dan biaya angkut ke pabrik. Sedangkan cost produksi CPO ditambah manufaktur di pabrik pengolahan, dan distribusi.

Berbeda dengan perusahan sektor non-komoditas, Market Share CPO, secara standar, akan sangat mudah dijual karena mengikuti harga komoditas dunia. Bisa dikatakan Bisnis CPO tak memerlukan divisi marketing untuk menggenjot penjualannya. Jadi dapat disimpulkan, Secara standard, faktor cost produksi dan kualitas produksi akan sangat menentukan bagus tidaknya bisnis CPO dibanding penjualannya.

Karena fungsinya sangat luas, akan membuka selebar-lebarnya bisnis dengan bahan baku CPO. Hal ini akan menambah value added perusahaan. Contoh; bahan baku minyak goreng, mie instan, bumbu olahan dkk. Beberapa contoh perusahaan yang mengolah CPO menjadi industri dengan value added lebih adalah Salim Ivomas, Indofood Sukses Makmur dkk. Jika perusahaan telah memproduksi olahan CPO, terutama makanan atau komoditas menembus sektor ritel, maka penjualan cenderung sangat diperhatikan.
 Jadi secara singkat kesuksesan bisnis CPO lebih pada kekuatan mengelola produksinya agar maksimal dan rendah biaya, proses produksi terdiri di lahan sawit sampai proses manufaktur-nya. Penilaiannya pun baru dapat dilakukan pada tahun ketiga. Fungsi olahan kelapa sawit yang luas membuka bisnis CPO lebih value added.

B.     Pelaporan Akuntansi dan Membaca Nilai Usaha CPO

Sebelumnya sudah dibahas bahwa untuk mendapatkan CPO dan olahan kelapa sawit lainnya diperlukan dua proses:
  • Proses di perkebunan
  • Proses Manufaktur
Kedua Proses Bisnis itu biasanya dimiliki oleh perusahaan-perusahaan CPO, kendati demikian beberapa perusahaan membeli dari petani kelapa sawit untuk mengolahnya, tetapi sebagian besar perusahaan punya kebun yang lebih luas.

a.      Pelaporan Akuntansi Kebun Kelapa Sawit

Sebenarnya secara pelaporan akuntansi CPO hampir sama dengan perusahaan Agriculture lainnya. Karena berpusat pada kualitas dan kuantitas produksi. Maka CPO terutama dinilai dari Tanamannya. Sesuai PSAK 32, Akuntansi tanaman pada akun pelaporannya dibagi dua:

1.      Tanaman yang belum menghasilkan
2.      Tanaman yang telah menghasilkan


Tanaman yang belum menghasilkan tidak akan berproduksi tetapi tanaman yang telah menghasilkan adalah tanaman yang sudah berporduksi. Kedua aku itu berada pada aset tetap dengan taksiran manfaat ekonomis 20 tahun.

Disini perlu dicermati dari sifat kelapa sawit yang 2-3 tahun belum menghasilkan, usia optimal produksi kelapa sawit adalah 8-12 tahun. Sedangkan metode penyusutan biasanya straight line method. Nah jika perhitungan jumlah produksi Buah pertandan kelapa sawit tahun ke-3 vs ke-8-12 adalah 2:5-6 atau produksi buah pertandan kelapa sawit usia 8-12 tahun adalah 4-6 kali lipat dari kelapa sawit usia 3 tahun, maka secara kasar bisa dihitung. Perkiraan usia kelapa sawit dapat dihitung dari akumulasi penyusutan (diluar tanaman yang tidak tumbuh).

Pada saat Reklasifikasi tanaman dari tanaman tidak menghasilkan ke tanaman menghasilkan, biasanya ada beberapa tanaman yang tidak berbuah (gagal tumbuh), “tanaman mati” ini biasanya dibebankan pada penyusutan tahun berjalan, sehingga nilai akumulasi penyusutan terlihat besar dengan nilai buku aset akan terlihat lebih besar.

b.      Menilai Nilai Buku Tanaman Kelapa Sawit dari Perspektif Seorang Investor

Sebenarnya sangat tidak fair menilai bisnis tanpa datang ke lapangan, tetapi karena kondisi yang tidak memungkinkan maka investor ritel terpaksa mengambil resiko yang lebih besar. Anggap saja, resiko itu sebagai bayaran kita tidak mendirikan bisnis itu.

Nah kita balik lagi ke perhitungan. Jika terjadi tanaman yang tidak tumbuh (biasanya terlihat setelah peralihan tanaman belum menghasilkan ke tanaman yang sudah menghasilkan). Maka perhitungan tanaman itu harus kita kurangkan langsung ke tanaman dan dikeluarkan dari akumulasi penyusutan. Hal ini untuk menghindari kerancuan penilaian tanaman kelapa sawit.

Secara wajar tanaman kelapa sawit berumur sampe 20 tahun. Maka penyusutan tahun berjalan adalah secara wajar:
Penyusutan Wajar = (Tanaman menghasilkan lama/20) + (Reklasifikasi tanaman yang tumbuh x (jumlah bulan reklasifikasi/12)/20)

Sedangkan perhitungan tanaman yang tidak tumbuh adalah:

Tanaman yang tidak tumbuh = peyusutan yang disajikan – penyusutan wajar

Contoh: PT. Upin menggunakan metode garis lurus untuk penyusutan tanamannya. Lapkeu PT. Upin tahun 2009 mencatatkan jumlah tanaman menghasilkan sebanyak 200 milyar dengan nilai akumulasi penyusutan 10 milyar, dan kuartal 3 tahun 2010 terjadi reklasifikasi tanaman belum menghasilkan ke tanaman menghasilkan sebanyak 130 milyar menjadi 230 milyar, dan ternyata akumulasi penyusutan  mencapai 43,75 milyar, pada lapkeu full year 2010 tanaman telah menghasilkan mencapai 230 milyar dengan nilai penyusutan 47,5milyar dan tak ada reklasifikasi tanaman. Pertanyaannya berapakah penyusutan wajar dan berapakah tanaman yang tidak tumbuh PT. Upin 2010? Berapakah nilai tanaman dan akumulasi penyusutan sebenarnya?
Jawab:
  • Jumlah waktu Reklasifikasi tanaman: 6 bulan (mundur satu kuartal).
  • Akumulasi Penyusutan yang disajikan Q3: 43,75 milyar
  • Penyusutan wajar sampai Q3: 100milyar x 9/12 :20 = 3,75 milyar
  • Penyusutan yang disajikan tanaman reklasifikasi Q3 = 43,75 milyar -10 milyar = 33,75 milyar
  • Tanaman yang tidak tumbuh Q3= 33,75 milyar – 3,75 milyar = 30 milyar
  • Penyusutan wajar full year 2010 = (100milyar/20) + ((130-30 milyar) x (6/12)/20) = 7,5 milyar
  • Penyusutan yang disajikan = 47,5 – 10 milyar = 37,5 milyar.
  • Tanaman yang tidak tumbuh = 37,5 – 7,5 = 30 Milyar
  • Nilai Tanaman sebenarnya = 230 milyar – 30 milyar = 200 milyar
  • Akumulasi penyusutan sebenarnya = 10 milyar + 7,5 milyar = 17,5 Milyar.

c.       Memprediksikan Jumlah Produksi CPO Tahun X.

Secara umum kelapa sawit berporduksi pada tahu ketiga, usia optimum 8-12 tahun dan usia maksimum adalah 20 tahun. Secara umum tingkat produksi CPO pada tahun tanaman sebagai berikut:

  • Umur tanaman 3-4 tahun hasil minyak = 500 kg/ha, hasil inti = 100 kg/ha
  • Umur tanaman 5-6 tahun hasil minyak = 1.000 kg/ha, hasil inti = 200 kg/ha
  • Umur tanaman 7-8 tahun hasil minyak = 1.600 kg/ha, hasil inti = 320 kg/ha
  • Umur tanaman 9-10 tahun hasil minyak= 2000 kg/ha, hasil inti = 400 kg/ha
  • Umur tanaman 11-12 tahun hasil minyak = 2250 kg/ha, hasil inti = 450 kg/ha.
  • Produksi akan terus menurun sampai 50% sampai tahun ke 20-25

Setiap varietas menghasilkan produksi yang berbeda, tetapi yang paling umum adalah perhitungan diatas. Sebenarnya sangat mudah memprediksikan produksi CPO, kita tinggal mengklasifikasikan tanaman sesuai kapan reklasifikasi tanaman dari belum menghasilkan ke sudah menghasilkan. Dan tanaman menghasilkan itu baru dimulai umur 3 tahun.

Memang membutuhkan tenaga lebih untuk melihat historis perusahaan terutama aset tanamannya. Tapi kita akan dibayar lebih ketika mengetahui nilai wajarnya.

Contoh: PT L berdiri tahun 2004, memulai dengan pembukaan lahan baru. Lapkeu Full Year 2006,2007,2008, 2009, 2010 PT L mencatatatkan sebagai berikut (dalam milyar):

bersambung diblog ini
Learn more »